Pengangguran dan Kemiskinan di Indonesia setiap
tahun semakin menjamur. Permasalahan ini setiap tahun selalu saja menjadi tolak
ukur keberhasilan seorang presiden, dan ramai di bicarakan banyak orang. Dari
para pemerhati ekonomi sampai pada masyarakat menengah dan kecil pun juga ikut
santer membicarakan hal ini. Ini dikarenakan turun tidaknya pengangguran dan
kemiskinan di Negeri kita akan berefek besar terhadap perkembangan perekonomian
kita. Dan tentunya juga berefek pada kemakmuran masyarakat Indonesia.
Dari permasalahan itu maka harus dicari solusi untuk menangani itu semua. Dan
solusinya adalah dengan memajukan dan mengembangkan jiwa-jiwa Entrepreneur di
Indonesia dari berbagai kalangan.
Indonesia sebagai bangsa yang besar tentunya
mempunyai pekerjaan-perkerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Berbagai
permasalahan yang di hadapai bangsa Indonesia harus membuat bangsa dan masyaraktnya
menjadi lebih dewasa. Persoalan yang terjadi di Negara kita adalah persoalan
masa lalu yang hingga sampai saat ini belum terselesaikan. Masalah inti dari
keterpurukan bangsa Indonesia adalah masih lemahnya ekonomi bangsa yang
berimbas pada perekonomian rakyat. Sampai kapan masyarakat terus menderita
dikarenakan pemerintah kita gagal meningkatkan tarap kehidupan masyarakatnya?
Akankah pengangguran dan kemiskinan akan terus menghiasai bangsa ini? Yang
jelas masyarakat masih menunggu langkah-langkah pemerintah untuk memakmurkan
masyarakatnya. Satu hal yang menurut saya mengapa pemerintah belum berhasil
meningkatkan taraf hidup masyarakatnya, itu karena pemerintah masih
setengah-setengah dalam menyelesaikan permasalahan ini. Sepertinya pemerintah
kita kurang berani bermimpi besar untuk bisa mencapai target-target besar. Dan
yang kedua pemerintah berpikirnya praktis saja, tidak berpikir strategis.
Pemerintahan yang cerdas harus bisa berpikir strategis. Apa yang dimaksud
dengan berpikir strategis di sini? Yaitu paham di mulai dari titik mana untuk
merubah kesemua titik. Jika dalam membangun ekonomi bangsa, pemerintah kita di
sulitkan dengan terbatasnya Anggaran Negara. Menurut saya ini hanya teori
pembelaan terhadap ketidakmampuan pemerintah. Sebenarnya ada satu hal yang bisa
kita lakukan untuk merubah ekonomi bangsa menjadi lebih baik. Solusinya
yaitu kita mengembangkan Entrepreneur yang ada di Indonesia. Terutama para
pemuda indonesia. Bisa dibayangkan jika pembengkakan angka pengangguran dan
kemiskinan tidak kita atasi, Indonesia akan mengalami masa-masa sulitnya.
Berbagai tindakan kriminal akan merajalela di mana-mana, ketidakharmonisan
tidak terjaga, dan kondisi politik Indonesia akan mengalami kepanikan yang luar
biasa.
Lihat saja data dari BPS(Badan Pusat Statistik)
Jumlah angka pengangguran dan Kemiskinan tiap tahunnya mengalami penurunan yang
tidak berarti.Pengangguran Terbuka*) Menurut Pendidikan Tertinggi yang
Ditamatkan 2008
|
No
|
Pendidikan Tertinggi yang di Tamatkan
|
2008 (Februari)
|
2008 (Agustus)
|
|
1
|
Tidak/Belum Pernah Sekolah/Belum Tamat SD
|
528 .195
|
547 .038
|
|
2
|
Sekolah Dasar
|
2 .216 .748
|
2 .099 .968
|
|
3
|
SLTP
|
2 .166 .619
|
1 .973 .986
|
|
4
|
SMTA
|
3 .369 .959
|
3 .812 .522
|
|
5
|
Diploma I/II/III/Akademi
|
519 .867
|
362 .683
|
|
6
|
Universitas
|
626 .202
|
598 .318
|
|
|
TOTAL
|
9 .427 .590
|
9 .394 .515
|
*) Mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha,
merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, sudah punya pekerjaan tetapi belum
mulai bekerja. Sumber : Survei Angkatan Kerja Nasional
(SAKERNAS)2008
Beberapa hal yang harus di lakukan adalah
melakukan beberapa tahap. Hari ini saya coba untuk memberikan Rumus mudah
untuk Menyelesaikan Permasalahan Pengangguran dan Kemiskinan di Indonesia
terkait dengan Entrepreneur. Yaitu “A-K-U”(Analisis-Kalkulasi-Uji Coba).
A. A= Analisis (Menjawab
Pertanyaan : Mengapa?, Apa?, dan Bagaimana?)
Kita akan mencoba menganalisis beberapa hal
terkait dengan permasalahan ekonomi Indonesia.
- Mengapa Jumlah Pengangguran dan Kemiskinan di Indonesia tiap
tahun semakin tinggi?
Jumlah Pengangguran dan Kemiskinan di Indonesia
semakin tinggi tiap tahun karena Pemerintah kita belum bisa berpikir srategis
dan bersikap tegas terhadap peraturan yang telah ada. Pemerintah harus melihat
dari berbagai sisi dan mencari celah solusinya. Dan juga terhadap aturan-aturan
yang telah ditetapkan pemerintahan di lapangan harus dipertegas dalam hal ini
BUMN.
- Apa yang harus di Lakukan oleh Pemerintah?
yang harus dilakukan pemerintah adalah dengan
cara mencari titik peluang dari satu sudut untuk merubah semua sudut. Yaitu
dengan mengembangkan bidang entrepreneur agar semua hal yang berkaitan
dengan ekonomi bisa teratasi.
- Bagaimana Caranya Untuk Menyelesaikan ini semua? Yaitu dengan
memperbaiki system yang ada. Penjelasanya bisa dilihat di halaman
selanjutnya.
B. K=Kalkulasi (Cermat
dalam Penghitungan)
Melaksanakan apapun itu tanpa adanya
perhitungan yang baik akan berdampak minim terhadap target dan output yang akan
di capai. Maka sangat penting kita melakukan Kalkulasi terhedap penentuan
target di Masa Depan. Dan dalam tulisan ini saya coba untuk melihat dari
berbagai data yang dikalkulasikan dari berbagai sumber.
|
Jumlah Penduduk Indonesia 2010*
|
Angka Terendah Populasi Penduduk 2010**
|
Angka Tertinggi Populasi Penduduk 2010**
|
Rata-rata Jumlah Penduduk Indoensia di 30
Propinsi
|
Pengangguran Di Indonesia 2009.***
|
|
234.200.000
|
826.000 (Provinsi Maluku Utara)
|
42.555.000(Provinsi Jawa Barat)
|
7.806.667 ****
|
9.258.964.
|
Catatan: *(Data BPS(Badan Pusat Statistik)
2010)
**(Data BPS dari 33 Propinsi dengan 3 propinsi
data kosong)
***(Data BPS Indonesia 2009)
****(234.200.000:30=7806666.6666666666666666666666667diasumsikan=7.806.667)
Jumlah entrepreneur di Indonesia: Thn 2009 =
0,18% Dari total penduduk Indonesia.
Tahun 2007 jumlah entrepreneur adalah 0,08%
dari 200jt penduduk indonesia(Kompas, 29/11/2007)
Artinya hanya ada 0,08/100 x 200jt=160.000
entrepreneur.Artinya jika di lihat tiap tahun naik 0,05%. Ironis tidak sampai
1%. Dari 234.200.000.Tahun 2009 akhir ada sebanyak 0,18% artinya ada sebanyak
0,18/100 x 234.200.000=421.560 entrepreneur. Jika kita mengharapkan pertumbuhan
wira usaha sebesar 1 % berarti kita butuh 1/100 x 234.200.000=2.342.000
entrepreneur. Coba kita bandingkan dengan singapura tahun 2005 mereka
mempunyai 7% entrepreneur dari sekitar 40jt Populasinya.
Artinya mereka memiliki sebanyak 7/100 x 40.000.000 =2.800.000
entrepreneur. Itu sudah sangat membantu perekonomian mereka. Pertanyaanya
bisakah Indonesia memenuhi 7%? Dalam artian beranikah kita mengembangkan
entrepreneur di Indonesia sebanyak 16.394.000?,di hitung dari 7/100 x
234.200.000=16.394.000.Berarti di 30 propinsi kita butuhkan tiap propinsi
sebanyak 16.394.000/30=546.467 entrepreneur. Artinya setiap Propinsi harus
mengembangkan Entrepreneur sebanyak 0.23% dari Total Populasi penduduknya.
Indonesia harus punya target…dan target itu juga
harus rasional dan jelas. Tidak kabur.
Sekarang kita butuh waktu berapa tahun untuk
menjadikan jumlah entrepreneur di Indonesia menjadi 7%? 1 tahun?atau 5 tahun?
Yang jelas jika kita semua bersungguh-sungguh dan pemerintah juga mau bekerja
keras saya yakin kurang dari 3 tahun target itu sudah bisa terpenuhi. Mengapa
saya menganalisa ini? Kita bayangkan jika 1 orang saja bisa menghasilkan 1
lapangan kerja baru , hasilnya akan sangat luar biasa. Misalkan 1 entrepreneur
bisa menampung 5 tenaga kerja, berarti dengan total wira usaha kita
7% maka :
16.394.000 x 1 x 5 =81.970.000 jiwa.
Bisa dibayangkan kita bisa menyediakan lapangan
kerja untuk 81jt jiwa rakyat Indonesia..dan otomatis masalah pengangguran bisa
teratasi. Data tahun 2009 BPS menyatakan bahwa jumlah pengangguran di Indonesia
dari berbagai Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan yaitu:
9.258.964. Dengan hanya 0,8% jumlah entrepreneur di Indonesia saja bsebanyak
1.873.600 menghasilkan Lapangan kerja baru sebanyak 9.368.000.
1873600 x 1 x 5 = 9.368.000
Lalu pertanyaan yang harus di bangun adalah
bagaimana caranya agar entrepreneur di Indonesia bisa mencapai 0,8% atau 7%?
Hal yang paling mendasar terlebih dahulu yang
harus di Lihat adalah Ruang Peluang Pembelajaran Entrepreneurshipnya. Karena
ini sangat penting untuk melihat peluang yang baik agar proses pengontrolan
lebih mudah. Dalam hal ini saya bagi ada 4 ruang sebagai peluang pengembangan
dunia entrepreneurship di Indonesia. Yaitu Kota, Desa, SMA/SMK/MA, dan
PT(Perguruan Tinggi) baik Swasta maupun Negeri.
Baik mari kita coba cari solusi dari ini semua.
a) Pemerintah
perlu membentuk badan khusus untuk memantau pertumbuhan entrepreneur yang ada
di Indonesia, selain memantau badan ini nantinya juga melakukan program-program
kongkrit untuk menumbuhkembangkan entrepreneur di Indonesia. Sebut saja
namanya”Entrepreneur Watch”.
b) Bekerjasama
dengan lembaga-lembaga non-pemerintahan yang bergerak dalam bidang wira
usaha/entrepreneur.
c) Memberikan
Bantuan modal kepada para pembisnis mula
d) Menguatkan dan
mempertegas fungsi control pemerintah terhadap BUMN; mengapa BUMN? Karena
pemerintah telah mewajibkan kepada para BUMN untuk menyisihkan dana beberapa
persen dari keuntunganya untuk disalurkan sebagai modal bisnis, baik pemula
maupun menengah. Karena selama ini tidak jelas kemana uang itu pergi,
kemungkinan besar di korupsi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Beberapa bentuk BUMN yaitu; PERTAMINA, BRI, BANK MANDIRI, PNM dan lainya.
e) Melakukan
Pelatihan-pelatihan tentang entrepreneur secara kontinu
f)
Melakukan pelatihan-pelatihan tentang berwirausaha di berbagai bidang, sesuai
dengan kondisi masyarakatnya.
g) Pemerintah
harus mempertegas kepada perguruan Tinggi yang ada di Indonesia untuk memasukan
kurikulum baru berbasis entrepreneur. Karena masih banyak kampus-kampus belum
memasukan kurikulum ini. Efeknya sangat besar sekali terhadap pengangguran.
Tahun 2009 sarjana yang menganggur mencapai 900.000. akan sangat menyedihkan bila
hampir tiap tahun Perguruan tinggi yang ada di Indonesia Menambah beban bangsa
ini dengan menambah jumlah pengangguran.
C. Uji Coba
Semuanya harus di coba, kebanyakan kita takut
dengan kegagalan. Padahal kehebatan suatu bangsa adalah bangsa yang sukses
dengan kegagalanya.
Pemerintah harus berpikir Go Action Agar Semua
Elemen Bergerak dan Bergerak. Artinya semua rencana harus dilaksanakan dengan
jujur, kerja keras, dan tentunya kerja cerdas dan ikhlas. InsyaAllah semuanya
akan bisa berjalan dengan baik.
Indonesia harus mandiri dan berani.
Pemerintahpun harus bisa tegas dalam hal ini. Jika entrepreneurship sudah bisa
kita majukan di Indonesia maka Perekonomian Indonesia secara otomatis bisa
terbantu. Jika ekonomi kita bisa membaik, masyarakatpun akan makamur, aman,
sentosa, Adil dan Sejahtera.
Saat ini Indonesia dalam tingkat penganggurannya menurun 6% dari
sebelumnya. Seperti yang di tuturkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan tingkat pengangguran terbuka
di Indonesia pada Februari 2012 mencapai 6,32% atau 7,61 juta orang. Jumlah ini
turun 6% dari Februari 2012 yang sebesar 8,12 juta orang.
Kepala BPS Suryamin mengatakan, angka persentase pengangguran 6,32%
di Februari 2012 turun dibandingkan Agustus 2011 yang sebesar 6,56% dan
Februari 2011 yang sebesar 6,8%.
"Jadi (angka pengangguran) pada Februari 2011 adalah 8,12 juta, Agustus
2011 adalah 7,7 juta, dan Februari 2012 adalah 7,61 juta, terus menurun. Tapi
perbandingannya sebaiknya Februari ke Februari karena ada seasonal di
situ," (Detik finance)
Suryamin menyebutkan pada Februari ini jumlah angkatan kerja di
Indonesia mencapai 120,4 juta orang, bertambah sekitar 3 juta orang dibanding
angkatan kerja Agustus 2011 sebesar 117,4 juta orang atau bertambah sebesar 1
juta orang dibanding Februari 2011.
Dari angkatan kerja tersebut, lanjut Suryamin, jumlah penduduk yang
bekerja di Indonesia pada Februari 2012 mencapai 112,8 juta orang, bertambah
sekitar 3,1 juta orang dibanding keadaan pada Agustus 2011 sebesar 109,7 juta
orang atau bertambah 1,5 juta orang dibanding keadaan Februari 2011.
Selama setahun terakhir (Februari 2011―Februari 2012), jumlah
penduduk yang bekerja mengalami kenaikan, terutama di Sektor Perdagangan
sekitar 780 ribu orang atau 3,36% serta sektor keuangan sebesar 720 ribu orang
atau 34,95%.
Namun, ada sektor-sektor yang mengalami penurunan adalah sektor
pertanian 1,3 juta orang atau 3,01% dan sektor transportasi, pergudangan, dan
komunikasi sebesar 380 ribu orang atau 6,81%.
Sementara berdasarkan jumlah jam kerja, pada Februari 2012 sebesar
77,2 juta orang atau 68,48% pekerja bekerja di atas 35 jam per minggu,
sedangkan pekerja dengan jumlah jam kerja kurang dari 15 per minggu mencapai
6,9 juta orang atau 6,08%.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Suhariyanto menilai
adanya fenomena di mana para pekerja formal meningkat dan peningkatan pekerja
untuk berpendidikan tinggi, serta adanya perpindahan sektor tenaga kerja dari
pertanian ke industri merupakan cermin pertumbuhan ekonomi yang berkualitas
karena kesejahteraan masyarakat akan membaik.